Kajian Pendidikan Nasional Dan Study Humaniora

Teman saya yang pernah ke Korea cerita: “Saya lihat wajah-wajah mereka. Walau pun katanya beda suku, tapi toh wajahnya sama-sama aja. Sementara di Indonesia, kita melihat beraneka macam wajah yang menandakan bahwa mereka berasal dari etnis berbeda. Tapi, hebatnya, kita bisa mengaku satu sebagai bangsa Indonesia.”
Iya ya, Korea yang nyaris homogen itu aja bisa sampe belah dua. Belagu amat. Sementara di sini, di tanah air yang tercinta ini, dengan sekian keragaman suku bangsa, bahasa dan sejarah kerajaannya masing-masing, kita bisa memilih untuk bersatu sebagai satu bangsa dan satu negara dan memiliki satu bahasa bersama. Seharusnya, para mahasiswa doktoral dari seluruh dunialah yang datang ke sini untuk belajar soal ‘bagaimana sih membuat negara dari sekian ratus etnis berbeda tapi nggak gontok-gontokan’…

Kembali kepada Wong Londo, mereka pun akhirnya harus pulang kampung, karena bumi putera bilang kepada mereka “elo… gue… end…” Kasihan banget, datang sebagai jomblo, pulang juga sebagai jomblo.
Namun, sistem pendidikan mereka masih menetap dan dilanggengkan di sini, yaitu pendidikan untuk menciptakan tukang yang siap pakai bagi kepentingan industri. Bahkan, lebih parah lagi, para peserta didik itu tidak suka membaca, apalagi mendalami ilmunya sampai menjadi ‘pemilik ilmu’ dan bukan cuma jadi ‘pemilik ijazah buat ngelamar kerja’…

Sistem pendidikan warisan kolonial tersebut kini dilanggengkan dengan lebih mantap lagi melalui visi “hilirisasi” dari Kemenristekdikti. Kuliah yang tinggi dan yang bener ya, nanti kalau lulus terus masuk industri ya. Kalau bikin penelitian juga untuk kepentingan industri ya, dan tentuin target costing-nya biar nanti, saat mau dijual jadi produk, harganya nggak mahal. Terus dipatenin. Nggak usah ngurusin penelitian ilmu murni. Itu nggak ada gunanya.

Bahkan, Kemendagri sempet mau bikin peraturan: “Kalau mau bikin penelitian, lapor dulu, biar jangan bikin penelitian yang bikin malu pemerintah.” Tapi, akhirnya dicabut lagi. Inilah “Orba cita rasa Reformasi” yang tetep aja ngebet ingin membatasi gerak dan kebebasan berpikir para peneliti dan ilmuwan.
Nah, semua carut marut pendidikan tersebut, akhirnya mendarat di surga kecil saya yang bernama Studia Humanika. Kami mengadakan berbagai kajian yang membuat para friend FB saya dari luar kota, luar provinsi, bahkan luar pulau, ingin sekali datang. Tapi, apakah kajian itu diminati oleh para mahasiswa aktivis Masjid Salman?